LEMAHNYA PENEGAKAN HUKUM PETI DI BUNGO: KETIKA NEGARA ABSEN DAN ALAM MENANGIS

Oleh: Agus Syafrial
Aktivis Lingkungan 

Saya menulis ini bukan dengan tinta, melainkan dengan luka. Luka seorang putra daerah yang menyaksikan kampung halaman tercinta dihancurkan perlahan tapi pasti. Luka seorang aktivis yang sudah lelah berteriak, tapi suara kami seolah hilang ditelan derasnya suara mesin gelondong, alat berat dan dompeng yang tak pernah berhenti. bukan hanya di sepanjang bantaran sungai yang ada di kabupaten bungo aktivitas peti tersebut bukan hanya memporak – porandakan lapisan tanah, bantaran sungai namun yang lebih parah lagi mereka mengunakan bahan – bahan berbahaya seperti mercuri dan potasium ( CN ) yang sebenarnya jenis bahan – bahan berbahaya itu tidak bebas di perjual belikan di pasaran, lalu pertanyaan apakah hal tersebut ada pengawasan nya …

 

Kabupaten Bungo sedang sekarat. Dan pelakunya bukan musuh dari luar, melainkan serakah yang tumbuh dari dalam, dibiarkan oleh sistem penegakan hukum  yang lemah atau jangan – jangan ada keterlibatan oknum aparat penegak hukum di kabupaten bungo yang terlibat, jawaban nya iya dan itu semua dapat terlihat dengan tidak seriusnya aparat penegak hukum bekerja dan melakuan penegakan hukum sesuai dengan ketentuan perundang – undangan yang berlaku.

Sungai Kami Bukan Lagi Sungai

Air di Dusun Rantau Pandan hingga ke pusat Kabupaten Bungo terpantau keruh sepanjang hari akibat penambangan emas ilegal di hulu Sungai Batang Bungo. sungai batang tebo , sungai batang jujuhan dan sungai batang pelepat  Ini bukan cerita lama. Ini realitas hari ini, yang saya dan ribuan warga Bungo alami setiap hari.

bagi masyarakat yang lahir dan besar di tepi Sungai, Dulu, air sungai itu jernih. mereka  mandi di sana, anak-anak bermain, para ibu mencuci pakaian sambil bercerita. Ikan-ikan berenang bebas. Itulah kehidupan mereka yang tinggal di sepanjang bantaran sungai.

Sekarang? Sekitar 90 persen aliran sungai besar di Bungo seperti Sungai Batang Jujuhan, Batang Senamat, Batang Uleh, Batang Pelepat, dan Batang Bungo kini tampak keruh pekat dan berlumpur akibat aktivitas PETI yang berlangsung bertahun-tahun.

Warna cokelat keruh itu bukan hanya lumpur. Itu adalah merkuri, racun mematikan yang mengalir dalam darah sungai kami. Kadar merkuri di Sungai Batang Bungo pada Juli 2025 mencapai hampir 30 kali lipat di atas baku mutu yang aman.

Tiga puluh kali lipat! Bayangkan, air yang kami gunakan untuk mandi, mencuci, bahkan sebagian warga masih menggunakan untuk memasak, mengandung racun sebanyak itu. Merkuri yang tinggi bisa menyebabkan gangguan saraf, kerusakan organ, bahkan cacat lahir jika terakumulasi lewat konsumsi ikan.

Anak cucu kami akan mewarisi apa? Sungai beracun? Ikan yang tercemar merkuri? Penyakit yang akan mereka derita seumur hidup karena kelalaian kita hari ini?

Alam Yang Terluka, Kehidupan Yang Hancur

Dampak PETI bukan hanya soal air keruh. Kerusakan lingkungan akibat PETI di Bungo menyebabkan abrasi Daerah Aliran Sungai, banjir, lahan pertanian menjadi tidak produktif, pencemaran air sungai, dan kelestarian hutan tidak terjaga sehingga menyebabkan bencana longsor. di kala musim hujan.

Beberapa lokasi PETI telah menimbulkan korban jiwa akibat longsor. Nyawa manusia melayang hanya demi segelintir gram emas. Apakah ini harga yang pantas kita bayar?

Saya pernah berbicara dengan seorang petani tua di Dusun Sungai Telang. Matanya berkaca-kaca saat menceritakan sawahnya yang dulunya hijau subur, kini tidak bisa ditanami lagi karena terendam lumpur dari hulu. Akses jalan ke kebunnya terputus karena tanah longsor akibat penambangan.

“Kami petani, Pak Agus,” katanya dengan suara bergetar. “Tanah adalah hidup kami. Kalau tanah rusak, kami mau makan apa?”

Pertanyaan sederhana yang tak ada jawabannya dari sistem yang seharusnya melindungi mereka.

Ketika Keanekaragaman Hayati Menjadi Korban

Sebagai aktivis lingkungan, data yang paling menyakitkan bagi saya adalah hilangnya keanekaragaman hayati di sungai kami. Di wilayah tercemar merkuri, setidaknya 8 spesies ikan hilang dibandingkan tahun 2018.

Delapan spesies. Mungkin angka ini tidak berarti bagi orang kota yang membeli ikan di supermarket. Tapi bagi kami, ikan-ikan itu adalah bagian dari ekosistem yang menyeimbangkan kehidupan. Ikan-ikan itu adalah sumber protein murah bagi keluarga miskin. Ikan-ikan itu adalah warisan alam yang tak ternilai.

Dan mereka menghilang. Punah. Tidak akan pernah kembali.

Peti: Bukan Sekadar Ilegal, Tapi Dosa Kolektif

Yang membuat saya semakin frustasi adalah argumen klasik yang selalu dilontarkan para pembela PETI: “Masyarakat butuh makan, Pak. Susah cari kerja. ya kalau itu pertanyaan nya apakah negeri ini ada pemimpin nya atau bisa jadi pemimpin nya tahu namun pura – pura tidak tahu ya jawaban nya hanya mereka dan tuhan lah yang tahu.

Saya paham kesulitan ekonomi. Saya tidak menghakimi para buruh tambang yang bekerja karena terpaksa. Tapi kejahatan ini bukan hanya soal buruh miskin yang mencari nafkah.

Para pekerja PETI memakai sabu-sabu doping agar bisa bekerja siang hingga malam tanpa merasa capek. Dampak PETI sudah merambah ke krisis narkoba. Beberapa pemuda lokal mulai menjadi pengantar narkoba ke lokasi penambangan.

Jadi ini bukan lagi soal ekonomi. Ini soal kehancuran generasi muda. Ini soal masa depan yang dijual murah demi keuntungan sesaat.

Di Mana Negara?

Inilah pertanyaan yang paling menyakitkan: di mana negara ketika kami membutuhkannya?

Aktivitas PETI sulit diselesaikan karena ada warga sekitar yang ikut terlibat, dan tidak banyak upaya pencegahan yang dilakukan. Sistem penegakan hukum kita seolah lumpuh di hadapan praktik ilegal yang terang-terangan ini.

Ribuan rakit dompeng beroperasi di sungai-sungai. Ratusan excavator menggali hutan lindung. Dan semuanya terjadi di depan mata kita semua. Bukan tersembunyi. Bukan rahasia. Terang-terangan.

Yang lebih menyakitkan, warga Dusun Sungai Telang yang berani melawan PETI justru mendapatkan intimidasi dan ancaman kekerasan. Mereka yang berusaha melindungi lingkungan malah menjadi korban teror.

Ini negara macam apa? Di mana yang salah dilindungi, dan yang benar diancam?

Mimpi Yang Terkubur Lumpur

Dusun Sungai Telang memiliki 18 titik air terjun yang bisa dikembangkan menjadi objek wisata untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Bayangkan potensi itu. Ekowisata yang berkelanjutan, lapangan kerja yang lestari, pemasukan daerah yang terus mengalir tanpa merusak alam.

Tapi air terjun Batang Kelumuk kini sepi pengunjung karena airnya keruh akibat aktivitas PETI . Mimpi desa wisata terkubur dalam lumpur tambang. Masa depan yang cerah digantikan dengan lubang-lubang menganga di hutan.

Ini bukan hanya soal hari ini. Ini soal anak cucu kita 50 tahun mendatang. Apa yang akan kita tinggalkan untuk mereka? Hutan gundul? Sungai beracun? Tanah yang tandus?

Sistem Yang Gagal, Rakyat Yang Menderita

Saya tidak naif. Saya tahu bahwa penegakan hukum PETI adalah masalah kompleks yang melibatkan banyak pihak. Tapi kompleksitas bukan alasan untuk diam.

Yang terjadi di Bungo adalah kegagalan sistem secara menyeluruh:

  • Regulasi ada, tapi tidak ditegakkan
  • Aparat ada, tapi seolah buta dan tuli
  • Korban berteriak, tapi tidak didengar
  • Pelaku terang-terangan, tapi tidak disentuh

Dan di tengah kegagalan sistem ini, rakyat kecil yang menanggung akibatnya. Petani kehilangan sawah. Nelayan kehilangan ikan. Anak-anak kehilangan masa depan yang sehat.

Tuntutan Saya Sebagai Warga Bungo

Sebagai aktivis lingkungan, sebagai warga Bungo, sebagai manusia yang masih punya hati nurani, saya menuntut:

Pertama, penegakan hukum yang konsisten dan tanpa kompromi. Undang-undang sudah jelas: PETI adalah kejahatan. Pelaku harus diproses. Alat harus disita dan dimusnahkan. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada “kasihan mereka butuh makan”. Hukum adalah hukum.

Kedua, transparansi total dalam penanganan PETI. Masyarakat berhak tahu: siapa yang ditangkap, berapa banyak alat yang disita, kemana uang hasil tambang mengalir, siapa pemilik modal di balik layar. Keterbukaan adalah kunci mencegah praktik korupsi dan kolusi.

Ketiga, pemulihan lingkungan yang komprehensif. Lubang-lubang tambang harus ditutup. Hutan harus direhabilitasi. Sungai harus dibersihkan. Ini tanggung jawab pelaku dan negara. Pemulihan harus dimulai sekarang sebelum terlambat.

Keempat, pemberdayaan ekonomi alternatif. Saya paham masyarakat butuh hidup. Maka berikan mereka alternatif yang lestari: ekowisata, pertanian organik, perkebunan berkelanjutan. Jangan biarkan mereka memilih antara kelaparan atau merusak alam.

Kelima, pendidikan lingkungan untuk generasi muda. Anak-anak kita harus paham bahwa alam adalah aset, bukan musuh. Mereka harus belajar mencintai dan melestarikan lingkungan, bukan mengeksploitasi dan menghancurkannya.

Pesan Untuk Bungo

Kepada sesama warga Bungo: kita tidak boleh diam. Keheningan kita adalah persetujuan kita terhadap penghancuran ini. Mari bersatu melawan PETI. Laporkan setiap aktivitas ilegal. Dukung warga yang berani melawan. Jangan biarkan intimidasi membuat kita takut.

Kepada pemerintah daerah: ini bukan lagi soal politik atau popularitas. Ini soal tanggung jawab moral terhadap generasi mendatang. Sejarah akan mencatat: apakah kalian menjadi pemimpin yang membela rakyat dan alam, atau pemimpin yang diam saat tanah leluhur dihancurkan?

Kepada para pelaku PETI: emas yang kalian gali hari ini adalah darah bumi. Keuntungan yang kalian raih adalah air mata anak-anak yang kehilangan sungai bersih untuk bermain. Uang haram itu tidak akan membawa berkah. Berhentilah sebelum dosa kalian semakin berat.

Bungo Menangis, Tapi Kami Tidak Menyerah

Saya menulis ini dengan hati yang berat tapi tekad yang bulat. Bungo memang sedang sekarat, tapi kami tidak akan membiarkannya mati. Kami, para aktivis lingkungan, akan terus berjuang. Kami akan terus bersuara. Kami akan terus melawan.

Karena ini bukan hanya soal lingkungan. Ini soal kemanusiaan. Ini soal keadilan. Ini soal masa depan.

Sungai Batang Bungo dulunya jernih. Suatu hari nanti, dengan usaha kita bersama, air itu akan jernih lagi. Anak cucu kita akan mandi di sana. Mereka akan melihat ikan berenang. Mereka akan mendengar cerita bahwa dulu, kakek dan nenek mereka pernah melawan ketamakan, dan menang.

Itulah harapan saya. Itulah mimpi saya. Dan untuk mimpi itu, saya akan terus berjuang sampai nafas terakhir.

Bungo layak lebih baik dari ini. Alam kita layak diselamatkan. Masa depan anak-anak kita layak diperjuangkan.

Pos terkait